contact
ANOUNCEMMENTS info
Selamat Datang di PLAY303BET.COM | Agent Betting Online Terbesar Di Asia|Harap Selalu Konfirmasi No Rekening. Deposit sebelum melakukan Transaksi | Terima Kasih.
Monday, 25 June 2018

Kebangkitan Generasi Millennial Inggris

Inggris sukses di berbagai ajang usia muda tahun ini. Apa saja rahasia dan tantangan mereka?
 

Keberhasilan Inggris menjuarai Piala Dunia U-17 dengan mengalahkan Spanyol 5-2 di final, Sabtu (28/10) lalu, tidak serta merta menghilangkan olok-olok kepada negara yang menganggap dirinya sebagai penemu sepakbola itu.

Keberhasilan itu merupakan rentetan sukses Inggris di berbagai turnamen usia dini yang diselenggarakan sepanjang 2017. Sebelum sukses di India, tim junior Inggris lebih dahulu merebut gelar juara di Piala Dunia U-20, Kejuaraan Eropa U-19, dan Turnamen Toulon. Tambahan lagi, tim Tiga Singa junior juga mampu menembus semi-final Kejuaraan Eropa U-21 serta final Kejuaraan Eropa U-17.

Di tataran individual, pencapaian Inggris tak kalah gemilang. Jadon Sancho dinobatkan sebagai pemain terbaik Kejuaraan Eropa U-17, Freddie Woodman menjadi kiper terbaik Piala Dunia U-20, sedangkan Dominic Solanke meraih penghargaan pemain terbaik di ajang yang sama. Masa depan sepakbola Inggris tampak cerah.

Media massa Inggris pun menyambut rentetan itu dengan penuh suka cita. Beberapa yang ragu mencibir, kesuksesan tim junior belum tentu menular ke tim senior mereka yang akan bertarung di Piala Dunia 2018 Rusia. Kali terakhir Inggris menjadi juara dunia lebih dari separuh abad silam saat Piala Dunia dipertandingkan di kandang sendiri.

Namun, membuat tim junior Anda mampu meraih sukses di berbagai level tentu bukan lah sebuah kebetulan. Malahan harus mendapat pengakuan tersendiri. Kerja keras FA tidak boleh diabaikan begitu saja.

Sukses Inggris U-17 menutup tahun penuh optimisme bagi masa depan sepakbola mereka.

Sukses Inggris dimulai sejak 2013 ketika FA mendatangkan Matthew Crocker sebagai kepala pengembangan kepelatihan tim. Crocker adalah figur di balik sukses Southampton dalam mengembangkan pemain muda berbakat seperti Gareth Bale, Theo Walcott, Alex Oxlade-Chamberlain, dan Luke Shaw. Crocker adalah direktur akademi Southampton sejak 2006 dan menjadikan klub pantai selatan Inggris itu salah satu yang terbaik dalam pembibitan pemain muda di Eropa.

"Saya pikir banyak klub kini mengakui Southampton dan cara mereka mengembangkan para pemain muda. Klub lain dengan masalah finansial biasanya memangkas akademi. Tidak dengan Southampton, bahkan di jenjang administrasi sekali pun. Akademi mereka tidak hanya dapat dianggap sebagai yang terbaik di Inggris, tetapi juga salah satu yang terbaik di Eropa," tukas Crocker dengan bangga kepada FourFourTwo suatu ketika.

FA kemudian memperkenalkan "DNA sepakbola Inggris" untuk diterapkan seluruh tim di negara St George itu. Filosofi yang hendak dibangun FA dipaparkan dalam empat aspek, yaitu saat menguasai bola, saat tidak menguasai bola, transisi, dan formasi. Visi ini kemudian dipecah lagi menjadi rencana strategis sehingga Inggris dapat membangun timnas mulai dari kelompok usia termuda (U-15) hingga tim senior.

Untuk fase pembentukan pondasi kemampuan pemain, FA memerinci aspek yang harus dilatih oleh seluruh akademi. Misalnya, saat penguasaan bola seorang pemain diminta untuk "mengembangkan kemampuan menguasai bola serta kepercayaan diri untuk mencoba hal baru". Atau saat transisi, pemain diminta untuk "mencoba memenangkan bola secepat mungkin dan mencegah lawan membangun serangan".

Langkah lain dalam menunjang kebijakan tersebut adalah membangun komunikasi dengan Football League. FA tampaknya menyadari, visi yang bagus tidak dapat berjalan tanpa bekerja sama dengan klub. Kedua pihak itu menyusun rencana bernama Elite Player Performance Plan (EPPP) supaya Inggris dapat memiliki akademi unggulan dunia yang mencetak banyak pemain binaan sendiri dan meningkatkan efisiensi dalam investasi pembinaan usia dini.

Salah satu strategi dalam EPPP adalah mengkategorikan akademi klub ke dalam empat level serta penerapan sistem perekrutan pemain muda. Akademi Level 1 hingga Level 3, misalnya, hanya dapat merekrut pemain U-9 hingga U-11 untuk fase pembentukan pondasi kemampuan dengan domisili berdurasi satu jam dari markas mereka. Sementara, perekrutan berskala nasional hanya diperbolehkan untuk pemain U-17 hingga U-21.

Inggris U-20 yang berjaya di Korea Selatan.

Selain itu, keberhasilan komunikasi antara asosiasi dan klub turut disadari menjadi kunci sukses saat Inggris menjuarai Piala Dunia U-20, Mei-Juni lalu. Buktinya, Everton tak kurang mengirimkan lima pemain mereka mengikuti turnamen. Tiga di antaranya, Dominic Calvert-Lewin, Ademola Lookman, dan Jonjoe Kenny, sudah mulai menjadi pemain pelapis The Toffees.

Komunikasi itu berjalan dua arah. FA juga mau mendengarkan kebutuhan klub saat pemain seperti Axel Tuanzebe, Patrick Roberts, dan Izzy Brown tidak dilepas oleh Manchester United, Glasgow Celtic, dan Huddersfield Town saat mengikuti Euro U-19. 

"Sepanjang musim FA dan semua klub terus menjalin komunikasi. [Direktur teknik FA] Dan Ashworth berkeliling mengunjungi semua klub untuk berkomunikasi dan mereka memberikan kami dukungan yang hebat," ungkap pelatih Inggris U-20, Paul Simpson, kepada The Guardian.

"Kami memiliki para pemain yang sangat baik di negara ini dan kami perlu memberangkatkan skuat terkuat agar memberikan mereka kesempatan untuk mencapai tahap akhir kompetisi. Kami tak mau hanya berpartisipasi untuk fase grup. Kami ingin memberikan mereka pengalamana bertanding di fase gugur, kalau perlu merasakan adu penalti. Semua hal yang menjadi titik lemah Inggris di berbagai turnamen selama beberapa tahun terakhir. Kalau mereka mengalaminya pada fase pengembangan, itu akan menjadi bekal yang baik di masa depan."

Inggris saat tampil di Kejuaraan Eropa U-19.

Tak hanya timnas yang diuntungkan, klub pun mulai memetik manfaat dari berkembangnya inisiatif pengembangan pemain muda Inggris. Chelsea diberi label sebagai klub kosmopolitan yang hobi berbelanja pemain mahal guna mencapai ambisi tinggi mereka. Tetapi, prestasi The Blues di level usia muda tidak boleh diabaikan.

Chelsea mampu dua kali menjuarai UEFA Youth League, kompetisi usia muda yang mempertandingkan tim U-19 di seantero Eropa. Si London Biru juga sukses enam kali juara dari delapan penyelenggaraan terakhir Piala FA Junior. Musim ini, Chelsea mengintai untuk menyamai rekor lima kali beruntun menjuarai Piala FA Junior milik Manchester United era Busby Babes.

Chelsea juga menjadi klub paling banyak yang menyumbang pemain ke timnas Inggris junior di berbagai ajang tahun ini. Sebanyak 24 slot dalam skuat Tiga Singa (total 121 slot pemain) diisi oleh pemain Chelsea di enam ajang usia muda yang telah disebutkan di bagian atas tulisan. Artinya, Chelsea memasok hampir 20 persen dari kekuatan Inggris.

Keberhasilan ini memang tidak menjanjikan gelar juara dunia di Rusia tahun depan, tetapi mampu menghasilkan optimisme untuk menyambut tantangan masa datang. Puncak visi dan misi yang diinisiasi Crocker empat tahun lalu adalah menempati posisi tiga besar pada Piala Dunia 2022. Target itu tidak mustahil mengingat para pemain muda mereka yang ada saat ini akan mencapai usia emasnya.

Barangkali, alih-alih mengembalikan sepakbola ke rumahnya, tantangan terbesar generasi millennial Inggris adalah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

 

Sukses tim junior Chelsea sebenarnya adalah sebuah paradoks. Bukankah skuat senior mereka masih mengutamakan para pemain impor? Musim ini saja, Chelsea begitu banyak melepas pemain muda untuk disekolahkan ke tim lain atau malah dijual dengan opsi "buy back" (untuk mengantisipasi kesalahan mereka dalam menilai kemampuan pemain muda). Malahan fenomena ini sudah terjadi beberapa tahun terakhir.

Cara Chelsea tersebut merepresentasi sikap klub papan atas Liga Primer Inggris. Aset pemain muda dianggap sebagai investasi dalam mendatangkan pemasukan klub, tetapi belum menjadi modal untuk mencapai sukses. Sayang memang, ladang seperti akademi top dianggap belum dapat mencukupi kebutuhan sendiri.

"Jelas jika FA ingin agar lebih banyak pemain binaan sendiri yang tampil di tim-tim Liga Primer. Liga Primer adala yang terbaik di dunia dengan para pemain berkelas dunia," jelas Crocker kepada Soccer America.

"Sisi lain dari keadaan itu, para pemain muda punya kesempatan berlatih dan belajar dari para pemain terbaik, dari semua teladan yang datang dari berbagai penjuru dunia, kemampuan teknik dan taktik mereka. Sikap mereka di luar lapangan juga dapat menjalar kepada para pemain muda."

"Kami semua ingin bekerja sama agar para pemain muda punya lebih banyak kesempatan di Liga Primer, bermain di stadion yang penuh, bermain di level tertinggi."

"Football League, Liga Primer, dan FA bekerja keras di balik layar guna memastikan kesempatan besar seperti itu dapat diberikan kepada para pemain di masa datang."

Ketika Liga Primer berpaling kepada pemain muda binaan sendiri, dunia tampaknya akan menjadi milik Inggris.

News Lainnya

Alexis Sanchez ke PSG, Wenger Wacanakan Barter dengan Julian Draxler

Michael Keane menambah skuad Inggris untuk pertandingan persahabatan Jerman dan Brasil

Dele Alli Main, Cetak Dua Gol, Lalu Tumbangkan Juara Bertahan

Chelsea Danny Drinkwater Menolak Panggilan Inggris

Krisis Real Madrid

BCA

Senin - Jumat

21.00 Offline - 01.00 WIB Online

Sabtu - Minggu

21.00 Offline - 23.00 Online WIB

00.00 Offline - 05.00 Online WIB

MANDIRI

Senin - Jumat

22.45 Offline - 04.00 Online WIB

Sabtu - Minggu

22.00 Offline - 06.00 Online WIB

BRI

Senin - Jumat

22.45 Offline - 04.00 Online WIB

Sabtu - Minggu

22.00 Offline - 06.00 Online WIB

BNI

Tidak Ada Offline

*Kecuali Maintenance

Game To Play

Game Option